Dua Ancaman Gunung Anak Kratau, Badan Geologi

Badan Geologi : Dua Ancaman Gunung Anak Kratau

Posted on

Ancamana Gunung Anak Krakatau Rudy Suhendar selaku Kepala Badan Geologi mengatakan, ada dua ancaman Gunung Anak Krakatau, yang pertama letusan dan yang kedua efek yang ditimbulkan berupa longsoran material Gunung.

Pantauan Gunung Anak Krakatau

Dua Ancaman Gunung Anak Kratau, Badan Geologi

Berdasarkan pantauan citra satelit Lapan, setidaknya 64 hektare badan gunung hilang yang disebabkan oleh longsor kemudian memicu terjadinya tsunami pada 22 Desember 2018 yang lalu. Hal yang juga menghawatirkan adalah adanya longsoran lagi sehingga dapat menimbulkan efek yang dapat menimbulkan bencana.

PVMBG terus aktif untuk memantau kondisi terkini gunung di perairan Selat Sunda tersebut. Badan Geologi melakukan evaluasi dan pada akhirnya menaikkan status Gunung Anak Krakatau yang waspada (level II) ke siaga (level III). Perubahan ini berdasarkan pertimbangan kontinuitas erupsi yang terjadi beberapa hari terakhir, kemudian awan panas yang langsung meluncur ke laut serta kemungkinan akan terjadi longsor lagi,” kata Rudy.

Anyer dan Cilegon merupakan wilayah terdampak hujan abu sejak pada hari Rabu kemarin yang mana ketebalannya kurang dari 1 mm. “Kejadian ini juga sebagai ancaman, sehingga status Gununga Anak Kratau dinaikkan,” ujar Rudy.

Terjadinya Tsunami tidak hanya bisa disebabkan oleh longsoran seperti pada tanggal 22 Desember lalu, namun faktor pemicu lainnya adalah magma atau awan panas yang keluar dari kawah yang kemudian meluncur langsung ke laut. Namun kondisi demian sulit untuk diperhitungkan / diprediksi sehingga menimbulkan tsunami.

Baca Juga : Danau Tondano di Sulawesi Utara

Sampai saat ini, pemantau gunung masih belum bisa mendekat ke gunung anak krakatau guna melihat secara langsung kondisi fisik khususnya di lokasi terjadinya longsor. Pengamatan hanya dapat dilakukan dari kejauhan seperti di Banten dan Lampung. Bukan tanpa alasan, cuaca dan alat transportasi merupakan kendalanya, kata Rudy. Badan Geologi dan PVMBG menggunakan citra satelit Lapan guna melihat secara terbatas kondisi terkini fisik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan hasil interpretasi citra satelit, kaldera kawah telah berubah sejak dari 19 Desember lalu jika dibandingkan dengan keadaan pada tanggal 23 Desember. “Terdapat perubahan lubang kawah yang lebih lebar, hal ini bukan bukan karena ambrol, namun dikarenakan ikut terlontar letusan gunung,” kata Rudy. Sedangkan untuk ketinggian gunung anak krakatau diduga tidak berubah signifikan.

Pola letusan gunung Anak Krakatau sulit dicari perbandingannya dengan Gunung Krakatau yang meletus hebat di 1883, Kata Rudi. Hal ini dikarenakan catatan data aktivitas Krakatau yang dulu tidak tercatat dengan baik layaknya pada data Anak Krakatau.

Hingga saat ini PVMBG masih terus berupaya menambah peralatan pemantau Gunung Anak Krakatau. Adanya penambahan peralatan tersebut juga sebagai pengganti peralatan sebelumnya yang sudah rusak di pulau Gunung Anak Krakatau saat letusan gunung pada 22 Desember 2018.

Update Terbaru Status Gunung Anak Krakatau

Dua Ancaman Gunung Anak Kratau, Badan Geologi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada tanggal 27 Desember 2018 menyatakan status Gunung Anak Krakatau naik Level III (Siaga).

Karena Gunung Anak Krakatau yang satatusnya siaga, wisatawan maupun masyarakat tidak diperbolehkan untuk mendekat kawasan gunung dalam radius 5 kilometer dari kawah.

Jika ingin lebih update dalam perkembangan status gunung anak krakatau, silahkan pantau akun twitter resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

BMKG telah menjelaskan ketinggian debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau (Kamis pukul 22.00 WIB) hingga mencapai lebih dari 12 kilometer mdpl. Nampak adanya sebaran debu vulkanik yang bergerak menuju barat daya – barat.

Namun kendati demikian, magma Gunung Anak Krakatau dapurnya tidak lebih besar dari ketiga gunung sebelumnya, kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur (25/12/2018).